Jumat, 10 Agustus 2018

Kisah Nabi Sulaiman As


Kisah Nabi Sulaiman As
Dalam aqidah ahlussunnah waljama’ah yang benar, ada 25 orang Rasul yang wajib diimani dan diketahui oleh setiap muslim. Salah satu dari 25 Nabi sekaligus Rasul tersebut adalah Nabi Sulaiman as.
Sebenarnya jumlah Nabi sepanjang hidup umat manusia dalam suatu riwayat berjumlah sekitar 124.000 orang. Jumlah Rasul sendiri adalah 313 orang. Namun dalam aqidah kita, yang wajib kita ketahui hanya 25 orang nabi dan rasul saja.
Selebihnya hanya wajib kita imani (bahwa para nabi dan Rasul tersebut ada) saja, tidak sampai harus diketahui.
Oleh karena itu, mengetahui kisah atau cerita ke-25 Rasul tersebut merupakan suatu keharusan. Dengan mempelajari kisah Nabi Sulaiman as, maka kita sudah menjalankan sebagian keharusan tersebut. Namun, jangan lupa juga membaca kisah rasul yang lain. 🙂
Siapakah Nabi Sulaiman as?
Dalam urutan nama-nama Nabi dan Rasul yang sudah sering kita baca dalam buku-buku cerita Nabi, Nabi Sulaiman as ada di urutan ke-18 sebelum nabi sesudah Nabi Daud as dan sebelum Nabi Ilyas as.
Ayah kandung dari Nabi Sulaiman as adalah Nabi Daud as. Sebelum Nabi Sulaiman as diangkat menjadi Rasul dan memegang kerajaan, rasul sekaligus raja sebelumnya adalah ayahnya sendiri, Nabi Daud as.
Nabi Sulaiman as dan ayahnya Nabi Daud as merupakan dua orang Rasul yang diutus kepada bani Israil di Palestina pada waktu itu.
Keteladanan dan Keistimewaan Nabi Sulaiman as
Sejak masih kanak-kanak hingga remaja, Nabi Sulaiman sudah memperlihatkan kecerdasan, kecakapan dan kemampuan berpikir yang baik terutama dalam pengambilan keputusan. Nabi Sulaiman as diceritakan juga sering Menengahi berbagai perselisihan yang terjadi antar penduduk di kalangan Bani Israil.
Beliau juga seringkali ikut bersama ayahnya dalam persidangan untuk menangani berbagai perselisihan yang terjadi di kalangan Bani Israil. Nabi Sulaiman as memang sengaja diajak bersama sebagai proses kaderisasi jika suatu saat Nabi Dauh as wafat.
Dalam sejarah, diketahui bahwa Nabi Sulaiman as memang yang paling pandai di antara saudaranya yang lain.
Ada satu kejadian yang menunjukkan kematangan Nabi Sulaiman dalam menengahi perselisihan. Dalam sebuah persidangan ada dua orang datang meminta Nabi Daud as memutuskan perkara mereka, anggaplah si A dan si B.
Kebun si A telah dimasuki oleh kambing-kambing si B saat malam hari sehingga isi kebun yang telah dirawat sekian lama itu habis dirusak dan dimakan. Padahal sudah masuk masa panen. Si B sendiri mengakui kejadian tersebut.
Dalam permasalahan itu, Nabi Daud memutuskan si B wajib menyerahkan kambing-kambingnya kepada si A sebagai ganti rugi.
Nabi Sulaiman merasa keputusan tersebut kurang tepat.
Beliau kemudian berkata kepada ayahnya kurang lebih seperti ini:
“Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan tersebut kurang tepat. Menurutku sebaiknya karena kambing si B telah memakan tanaman si A, maka si B wajib memugarkan (dengan ditanam kembali misalnya) kembali tanaman tersebut sehingga seperti sedia kala. Dan selama si B mengerjakan demikian, maka si A wajib menjaga kambing-kambing si B, merawatnya dan mengambil manfaat seperlunya.”
Kuputusan tersebut diterima dengan baik oleh kedua orang yang menggugat dan digugat. Kejadian ini menjadikan Nabi Sulaiman as semakin dikagumi kecerdasannya.
Kerajaan Nabi Sulaiman as
Seperti dijelaskan sebelumnya, sejak masih muda, Nabi Sulaiman telah disiapkan oleh Nabi Daud untuk menggantikannya mengepalai kerajaan Bani Israil.
Kakak Nabi Sulaiman, Absyalum, tidak rela dilangkahi oleh adiknya. Ia beranggapan dialah yang sepatutnya menjadi putera mahkota sebagai pewaris pertama kerajaan Bani Israil.
Absyalum kemudian melakukan propaganda untuk menggulingkan pemerintahan ayahnya. Dia mengumpulkan masyarakat yang telah dipengaruhi untuk menduduki instana.
Rencana Absyalum berhasil. Absyalum menguasai kerajaan selama beberapa waktu. Namun dengan berbagai usaha, kerajaan tersebut bisa direbut kembali oleh Nabi Daud as.
Ketika Nabi Daud As wafat, kerajaan Bani Israil diberikan kepada Nabi Sulaiman As. Mulai saat itu, Nabi Sulaiman as lah yang memimpin kerajaan Bani Israil hingga beliau wafat.
Mukjizat Nabi Sulaiman as
Setiap Rasul pasti diberikan mukjizat oleh Allah SWT, begitu juga dengan Nabi Sulaiman as. Nabi Sulaiman as dianugerahi beberapa mukjizat oleh Allah SWT. Beberapa di antaranya adalah mampu menguasai para jin dan mampu berbicara dengan binatang.
Hal ini tentu tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa seperti kita. Itulah kenapa hal tersebut dinamakan den
gan mukjizat, karena merupakan hal yang luar biasa dan di luar nalar.
Beberapa mukjizat Nabi Sulaiman as bisa kita lihat dalam dua ayat Alquran ini.
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman” (An Naml: 15)
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata“ (An Naml: 16).
Juga bisa kita baca dalam ayat di bawah ini.
” Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (Al-anbiya: 81)
Nabi Sulaiman as Mampu Berbicara dan Mengendalikan Makhluk Lain (dengan izin Allah)
Seperti disebutkan sebelumnya, Nabi Sulaiman as dianugerahi banyak sekali kelebihan dan mukjizat oleh Allah SWT. Salah satunya adalah mampu menundukkan makhluk lain seperti jin dan burung.
Hal ini seperti termaktub dalam surat An Naml ayat 17:
“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An Naml: 17)
Sementara dalam surat yang lain, Nabi Sulaiman dikabarkan mampu mengendalikan angin.
“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Anbiya: 81)
Dikisahkan juga bahwa yang pembangunan gedung-gedung di masa kerajaan Nabi Sulaiman as dilakukan oleh para jin (dalam Alquran menggunakan kata syaithan). Hal ini bisa kita baca dalam surat Al Anbiya:
“Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,” (Al Anbiya: 81)
Nabi Sulaiman as dan Semut
Selain mampu menundukkan para jin, Nabi Sulaiman as juga mampu menundukkan makhluk lain seperti binatang. Salah satu binatang yang suaranya didengar oleh Nabi Sulaiman as adalah semut. Hal ini juga disebutkan dalam Alquran surat An Naml ayat 18-19.
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut:
” Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”(An-Naml : 18)
Nabi Sulaiman as pun tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Beliau berdoa sebagaimana tertulis dalam ayat selanjutnya.
“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh“. (QS. An-Naml : 19)
Kisah Nabi Sulaiman dan Burung Hud-Hud
Suatu hari Nabi Sulaiman as mengumpulkan tentaranya dari berbagai jenis makhluk. Namun saat dilakukan pengecekan, burung hud-hud tidak ada dalam kelompok. Hal ini seperti tersebut dalam Alquran:
“ Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.” (QS. An Naml : 20)
Karena ketidakhadirannya, Nabi Sulaiman as sempat mengancam untuk menghukum burung hud-hud sebagaimana tertulis dalam ayat selanjutnya.
” Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (QS. An Naml : 21)
Ada juga versi cerita yang mengatakan bahwa setelah Nabi Sulaiman As membangun Baitulmaqdis dan melakukan ibadah haji, Beliau kemudian melakukan perjalannya ke Yaman. Setibanya di San’a, Ibu Kota Yaman, ia memanggil burung hud-hud untuk mencari sumber air di tempat yang kering dan tandus itu.
Ternyata burung hud-hud tidak kunjung datang. Nabi Sulaiman marah dan mengancam akan menghukum burung Hud-hud jika ketidakhadirannya karena alasan yang kurang jelas.
Namun tidak lama kemudian, burung hud-hud muncul. Cerita ini masih tertulis dalam ayat selanjutnya.
” Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. An Naml: 22)
Penjelasan dan percakapan antara Nabi Sulaiman as dan burung hud-hud (agar lebih mudah) akan kita pelajari sama-sama melalui ayat-ayat selanjutnya dari surat An Naml.
Burung hud-hud mengaku menjumpai seorang wanita yang mempunya singgasana atau kerajaan yang besar.
“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. “ (QS. An Naml: 23)
Namun wanita tersebut dan kaumnya tidak menyembah Allah, melainkan menyembah matahari.
“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,“ (QS. An Naml: 24)
“agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.“ (QS. An Naml: 25)
“Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar“ (QS. An Naml: 26)
Setelah mendengan penjelasan dari burung hud-hud, Nabi Sulaiman as kemudian menjawab:
“Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.“ (QS. An Naml: 27)
Ayat seterusnya dari surat An Naml akan menjelaskan kisah Nabi Sulaiman as  dan Ratu Balqis. Oleh karena itu, akan saya buat sub judul sendiri untuk lebih memudahkan.
Nabi Sulaiman as dan Ratu Balqis
Agar lebih afdhal, cerita selanjutnya akan saya runut berdasarkan cerita yang tertulis dalam surat An Naml. Selain ayat dalam Bahasa Arab, saya juga mencantumkan arti sekaligus tafsir (Jalalain). Silakan melanjutkan. 
Nabi Sulaiman as kemudian melanjutkan dan meminta kepada burung hud-hud uuntuk mengantarkan surat kepada wanita/ratu tersebut (yang dimaksud adalah Ratu Balqis).
” Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan“ (QS. An Naml: 28)
Surat itu kemudian sampai dan dibaca oleh Ratu Balqis. Isinya:
“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, surat ini adalah daripadaku, Sulaiman. Janganlah kamu bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri.”
Dalam ayat selanjutnya, Ratu Balqis memberitahukan kepada pembesar-pembesar di negerinya terkait surat tersebut.
“Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.“ (QS. An Naml: 29)
“Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya isinya) kandungan isi surah itu, (‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).” (QS. An Naml: 30)
أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
(Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku, sebagai orang-orang yang berserah diri’)“. (QS. An Naml: 31)
قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ
“(Berkata dia, “Hai para pembesar! Berilah aku pertimbangan) dapat dibaca Al Mala-u Aftuni dan Al Mala-uwaftuni, maksudnya, kemukakanlah saran kamu sekalian kepadaku (dalam urusanku ini, aku tidak pernah memutuskan suatu persoalan) karena aku belum pernah memutuskannya (sebelum kalian berada dalam majelisku”) sebelum kalian semua hadir di majelisku ini.” (QS. An Naml: 32)
Para pembesar Ratu Balqis kemudian memberikan jawaban seperti dalam ayat 33 berikut.
قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ
“(Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat) dalam peperangan (dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”) kami akan menaati perintahmu.” (QS. An Naml: 33)
Secara tersirat, para pembesar tersebut menyarankan untuk mengangkat senjata karena secara kekuatan dirasa sanggup. Namun keputusan tetap beraada di tangan Ratu mereka.
Ratu Balqis kemudian menjawab.
قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ
(Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya) melakukan pengrusakan di dalamnya (dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pula yang akan mereka perbuat) yang akan dilakukan oleh para pengirim surah ini. (QS. An Naml: 34)
Ratu Balqus memilih untuk mengirimkan hadiah kepada sipengirim surat (waktu itu belum tahu Nabi Sulaiman a.s) sebagai bentuk beritiqad baik.
وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ
“(Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”) apakah mereka akan menerima hadiahku ini atau menolaknya. Jika ia seorang raja niscaya ia akan menerimanya, jika ia seorang Nabi niscaya ia akan menolaknya. Kemudian ratu Balqis mengirimkan para pelayan lelaki dan perempuan yang jumlahnya dua ribu orang; separuh laki-laki dan separuh lagi perempuan. Para utusan itu membawa lima ratus balok emas, sebuah mahkota yang bertatahkan permata, minyak kesturi, minyak anbar dan hadiah-hadiah lainnya beserta sebuah surah jawaban. Burung Hud-hud segera terbang menuju ke Nabi Sulaiman untuk memberitakan kepadanya semua apa yang ia dengar dan saksikan itu. Setelah Nabi Sulaiman mendapat berita dari burung Hud-hud, maka segera ia memerintahkan pasukannya untuk membuat batu bata dari emas dan perak, hendaknya dari tempat ia berkemah sampai dengan sembilan farsakh dihampari permadani, kemudian di sekelilingnya dibangun tembok yang terbuat dari batu bata emas dan perak, kemudian ia memerintahkan kepada anak-anak jin supaya mendatangkan hewan darat dan hewan laut yang paling indah untuk ditaruh di sebelah kanan dan kiri lapangan dekat istana yang dibangunnya itu.” (QS. An Naml: 35)
Utusan Ratu Balqis kemudian sampai di kediaman Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman lalu berujar kepada para utusan tersebut.
فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِّمَّا آتَاكُم بَلْ أَنتُم بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ
(Maka tatkala utusan itu sampai) utusan ratu Balqis yang membawa hadiah berikut dengan pengiring-pengiringnya(kepada Sulaiman. Sulaiman berkata, “Apakah patut kalian menolong aku dengan harta?, apa yang diberikan Allah kepadaku) berupa kenabian dan kerajaan (lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada kalian) yakni keduniaan yang diberikan kepada kalian (tetapi kalian merasa bangga dengan hadiah kalian itu) karena kalian merasa bangga dengan harta keduniaan yang kalian miliki. (QS. An Naml: 36)
Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan para utusan tersebut untuk kembali. Tidak hanya itu, Nabi Sulaiman meminta ratu mereka untuk mendatangi Nabi Sulaiman. Bahkan Nabi Sulaiman mengancam akan mengusir mereka dari negeri mereka (negeri Saba’) jika sang ratu tidak mau datang. Hal ini tertulis dalam ayat selanjutnya.
ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُم بِجُنُودٍ لَّا قِبَلَ لَهُم بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُم مِّنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ
(Kembalilah kepada mereka) dengan hadiah yang kamu bawa itu (sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mempunyai kekuatan) tidak berdaya lagi (untuk melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu) dari negeri tempat tinggal mereka, yaitu negeri Saba’. Negeri ini dinamai dengan nama kakek moyang mereka (dengan terhina dan mereka menjadi tawanan”) jika mereka tidak mau datang kepadaku dengan berserah diri. Ketika utusan itu kembali kepada ratu Balqis berikut dengan hadiah yang mereka bawa sebelumnya, ratu Balqis menempatkan singgasananya di dalam keratonnya yang berpintu tujuh, sedangkan keraton ratu Balqis berada di dalam tujuh keraton yang besar-besar. Kemudian semua pintu-pintunya dikunci dengan rapat dan menugaskan sebagian bala tentaranya untuk menjaga keraton dan singgasananya. Setelah itu ia bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menghadap Nabi Sulaiman, untuk melihat apa yang bakal diperintahkan oleh Nabi Sulaiman kepada dirinya. Berangkatlah ratu Balqis dengan membawa dua belas ribu pasukannya; menurut pendapat yang lain disebutkan bahwa jumlah tentara yang dibawanya pada saat itu sangat banyak, sehingga dari jarak satu farsakh dapat terdengar suara gemuruhnya. (QS. An Naml: 37)
Mengetahui Ratu Balqis memenuhi permintaan Nabi Sulaiman, maka Nabi Sulaiman memerintahkan kepada para pembesarnya untuk membawa istana Ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman.
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
“(Berkata Sulaiman, “Hai pembesar-pembesar! Siapakah di antara kamu sekalian) lafal ayat ini dapat dibaca secara Tahqiq dan dapat pula ia dibaca secara Tas-hil sebagaimana keterangan sebelumnya (yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”) yakni taat dan tunduk kepadaku. Maka aku harus mengambil singgasananya itu sebelum mereka datang, bukan sesudahnya.” (QS. An Naml: 38)
Permintaan Nabi Sulaiman ini kemudian disambut oleh jin ifrit.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
“(Ifrit dari golongan jin berkata,) yakni jin yang paling kuat lagi keras (“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu) dari majelis tempat ia melakukan peradilan di antara orang-orang, yaitu dari mulai pagi sampai tengah hari (dan sesungguhnya aku benar-benar kuat) untuk membawanya (lagi dapat dipercaya.”) atas semua permata dan batu-batu berharga lainnya yang ada pada singgasananya itu. Maka Nabi Sulaiman berkata, “Aku menginginkan yang lebih cepat dari itu”.” (QS. An Naml: 39)
Mendengar permintaan Nabi Sulaiman,  Ashif ibnu Barkhiya (ada yang mengatakan sepupu Nabi Sulaiman, ada yang mengatakan juru tulis Nabi Sulaiman) mengatakan bisa membawa singgasana tersebut dalam sekelip mata.
فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
(Seorang yang mempunyai ilmu dari Al kitab) yang diturunkan (berkata,) ia bernama Ashif ibnu Barkhiya; dia terkenal sangat jujur dan mengetahui tentang asma Allah Yang Teragung, yaitu suatu asma apabila dipanjatkan doa niscaya doa itu dikabulkan (“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”) jika kamu tujukan pandanganmu itu kepada sesuatu. Maka Ashif berkata kepadanya, “Coba lihat langit itu”, maka Nabi Sulaiman pun menujukan pandangannya ke langit, setelah itu ia mengembalikan pandangannya ke arah semula sebagaimana biasanya, tiba-tiba ia menjumpai singgasana ratu Balqis itu telah ada di hadapannya. Ketika Nabi Sulaiman mengarahkan pandangannya ke langit, pada saat itulah Ashif berdoa dengan mengucapkan Ismul A’zham, seraya meminta kepada Allah supaya Dia mendatangkan singgasana tersebut, maka dikabulkan permintaan Ashif itu oleh Allah. Sehingga dengan seketika singgasana itu telah berada di hadapannya. Ibaratnya Allah meletakkan singgasana itu di bawah bumi, lalu dimunculkan-Nya di bawah singgasana Nabi Sulaiman. (Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak) telah berada (di hadapannya, ia pun berkata, “Ini) yakni didatangkannya singgasana itu untukku (termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku) untuk menguji diriku (apakah aku bersyukur)mensyukuri nikmat, lafal ayat ini dapat dibaca Tahqiq dan Tas-hil (atau mengingkari) nikmat-Nya. (Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya) artinya pahalanya itu untuk dirinya sendiri (dan barang siapa yang ingkar) akan nikmat-Nya (maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya) tidak membutuhkan kesyukurannya (lagi Maha Mulia”) yakni tetap memberikan kemurahan kepada orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya. (QS. An Naml: 40)
Ketika singgasana tersebut telah berada di hadapan Nabi Sulaiman, beliau berkata.
قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ
(Dia berkata, “Ubahlah baginya singgasananya) yaitu bentuknya sehingga bila kelak ia melihatnya tidak yakin bahwa singgasana itu miliknya sendiri, (maka kita akan melihat apakah dia mengenal) yakni dapat mengetahuinya (ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya”) tidak mengetahuinya karena telah mengalami perubahan. Nabi Sulaiman sengaja melakukan hal ini untuk menguji kecerdasan akalnya, karena menurut kata orang-orang dia berakal cerdas. Maka mereka segera mengubah singgasana itu dengan cara menambahi dan mengurangi serta memoles bagian-bagiannya. (QS. An Naml: 41)

Saat Ratu Balqis tiba, beliau tidak menyangka bahwa ada istina yang menyerupai istananya di Saba. Selama ini beliau berpikir beliaulah pemilik istana terindah.
Saat ditanya oleh Nabi Sulaiman as: “Seperti inikah singgasanamu?” Dengan terperanjat Ratu Balqis menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku” Kemudian Ratu Balqis dipersilakan masuk ke istana Nabi Sulaiman.
Peristiwa tersebut membuat Ratus Balqis takjub dan menyadari kekurangannya. Beliau pun memohon maaf atas kekhilafaanya selama ini. Ratu Balqis kemudian menikah dengan Nabi Sulaiman as. 
Penutup
Itulah beberapa bagian kisah dari Nabi Sulaiman as. Tentu banyak sekali bagian cerita dari seorang Rasul Allah yang mulia tersebut. Namun yang sampai kepada kita melalui Alquran dan referensi lainnya hanya beberapa bagian saja.
Jika ada yang ingin menambahkan, silakan tulis di kolom komentar ya. Atau jika ada kesalahan dalam cerita maupun penulisan, mohon juga revisinya.
Jadi, sejauh mana kita sudah mengenal Nabi Sulaiman as?


Minggu, 18 Desember 2016

Surat Untuk Calon Ma'mumku

Hasil gambar untuk wahai makmumku jawaban surat untuk imamku
ni adalah goresan pena dari seorang lelaki biasa yang mendambakan wanita  sholehah sepertimu, 
wahai calon makmumku.
Semoga engkau membaca surat dariku ini..
Ya, aku sadar. Aku hanyalah manusia biasa. Bukanlah pula orang yang semulia Abu Bakar Ash-Shidiq. Setaqwa Umar bin Khatab, ataupun setabah Ustman bin Affan dan sekaya Abdurrahman bin ‘Auf. Setegar Zaid, juga tak segagah Ali bin Abu Thalib, apalagi setampan Usamah. Aku hanyalah seorang lelaki akhir zaman yang masih punya cita dan cinta. Dan aku juga menyadari, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Dan engkau pun menyadari hal itu pula bukan?
Wahai calon makmumku,
Ingatkah engkau tentang kisah “Cinta Dalam Diam”-nya Fatimah dan Ali?? yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan? Nah, saat ini pula aku pun merasakan dan kuyakini dalam hati cinta diamku seperti itu tersimpan. Bagiku ini adalah kekuatan harapan, kekuatan keikhlasan. Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cinta ini pun dapat berbicara padamu nanti dalam kehidupan nyata. Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya??
Jika benar cinta ini karena Allah, maka kubiarkan ia mengalir mengikuti aliran-Nya karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepadaNya..
”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah .” (QS. Adz Dzariyat : 49)
Duhai, Dirimu yang masih dalam kesendirian,
Walau ku tak tau namamu, jika kita dipertemukan nanti. Aku tak berharap banyak darimu. Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting bagiku. Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Allah Robbana. Apalagi sekaya Khadijah, hanya berharap engkau wanita akhir zaman yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka dan mempunyai visi yang sama denganku membangun keturunan yang sholeh dan sholehah, membangun peradaban, dan membuat Rasulullah SAW bangga di akhirat sana. Itu saja.
Siapapun engkau, di manapun berada. Semoga Allah menjagamu, hingga tiba waktunya perjuangan panjangmu tak lagi sendiri. Maka, mulai saat ini mari kita sama-sama siapkan ilmu dan bekal lainnya, tetaplah dalam ketaatan, teguhkanlah hati dengan cinta semata-mata karena Ridho-Nya. Aku disini dan engkau disana. Jangan bersedih hati, bulatkan azzammu tetap Istiqomah di jalanNya. Tegakkan bahumu, kukuhkanlah kembali semangatmu. Semoga esok hari nanti, engkau tak lagi ragu untuk meyambutku didepan ayahmu.
Duhai, Engkau Calon Makmumku,
Jika namamu dan namaku  yang tertulis di Lauhul Mahfuz-Nya. Yakinilah, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam hati kita.
Ketahuilah, saat ini tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mensholehkan diriku. Sukar untuk mencari sholehah dirimu, andai sholehku tidak setanding dengan kesholehahan mu. Janji Allah pasti ku pegang dalam misi mencari diri ‘Wanita yang baik untuk Lelaki yang baik”

Minggu, 13 November 2016

Sirah Nabawiyah Bagian VIII.Penolakan orang-orang Musyrik Mekah terhadap Islam


Mekah atau Bakkkah adalah sebuah kota tua yang lahir ribuan tahun lalu berkat adanya sumber air abadi yaitu sumur Zamzam. Berbagai sumber meriwayatkan bahwa sumur ini muncul beberapa saat setelah kelahiran nabi Ismail as. Setelah Ismail dewasa, bersama ayahnya, nabi Ibrahim as, berdua mereka membangun kembali bangunan Ka’bah yang fondasinya telah dibangun oleh nabi Adam as.
“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS.Al-Baqarah(2):127).
Sejak itulah maka Mekah dengan Ka’bahnya berkembang pesat menjadi pusat keagamaan, pusat ritual penyembahan kepada Allah swt, Tuhan Yang Esa. Namun seiring dengan berlalunya waktu, penyembahan tersebut lama kelamaan menjadi melenceng dari arahnya yang semula benar. Patung-patung mulai didirikan dan akhirnya malah disembah. Meski mereka tetap mengakui Allah sebagai Sang Pencipta namun mereka  juga mengakui dan bahkan menyembah berhala-berhala. Uzza, Latta dan Manna adalah nama-nama berhala yang mereka anggap sebagai anak perempuan Allah.
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? ”. (QS.An-Najm(53):19-20).
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(QS.Lukman(31):25).
Mereka meyakini bahwa disamping Allah, berhala-berhala itu dapat memberi syafaat kepada mereka. Jelas, ini sebuah kesalahan, sebuah kedustaan, sebuah kezaliman. Penguasa alam semesta ini adalah Allah Yang Maha Kuasa, Ia Tunggal, tidak memiliki satupun sekutu. Berhala-berhala itu tidak mempunyai kuasa sedikitpn terhadap manusia.  Ini adalah bisikan syaitan terkutuk yang berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Syaitan menginginkan agar manusia lupa terhadap kehidupan akhirat, kehidupan yang hakiki. Karena kehidupan dunia adalah sementara.
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan”.(QS.Al-Ankabut(29):17).
“Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela`nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun”. (QS.Al-Ankabut(29):25).
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan “. (QS.Al-An’am(6):100).
Suatu ketika Ibnu ‘Abba memaparkan bahwa ayat 100-103 surat Al-Anam diturunkan berkenaan dengan kaum Musyrik yang menjadikan jin sebagai sekutu bagi Allah. Mereka ditanya : “Bagaimana mungkin kalian beribadah kepada jin, sedangkan kalian menyembah berhala?”. Mereka menjawab, “ Kami bukan menyembah berhala tetapi dengan menghadap kepada berhala berarti kami taat kepada jin”. (HR Ibnu Jarir).
Itu sebabnya Allah swt memanggil penduduk Mekah dengan sebutan Musyrik yaitu kaum yang syirik, kaum yang menduakan atau lebih Tuhan. Ironisnya, para pemuka dan penjaga Kabah tersebut malah bangga dan arogan. Mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang terhormat dan termulia yang paling  tahu tentang agama dan ajaran yang menurut mereka telah dijalani sejak ribuan tahun lalu oleh nenek moyang mereka.
“ Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” .(QS.Al-Baqarah(2):170).
Demikian pula ibadah haji yang dilaksanakan setahun satu kali. Kegiatan haji seperti  tawaf, sa’i dan pemotongan kurban menjadi ritual sesat yang sungguh tidak beradab. Bahkan dengan hanya secarik kain yang menutup kemaluan  kaum perempuan berlari-lari kecil  mengelilingi Ka’bah. Sementara darah kurban hewan dilulurkan ke tembok Ka’bah dengan maksud sebagai sesajen bagi tuhan-tuhan mereka!!
“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya … “.(QS.Al-Hajj(22):37).
Dalam keadaan seperti inilah Rasulullah lahir dan datang. Beliau diperintah Allah swt untuk meluruskan kembali agama yang dibawa nabi Ibrahim as ribuan tahun  silam itu agar tidak bengkok dan lurus kembali.  Kesyirikan sangat dekat kekafiran. Pengakuan dan penyembahan hanya kepada Allah swt, tidak bersama dengan tuhan dan sesembahan lain adalah inti ajaran yang dibawa para nabi. Itulah Islam.
Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah, ‘As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi saw. Mereka menyatakan, “Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula daripadanya”. Beliau menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya”. Lalu turunlah surah Al Kafirun sebagai jawaban terhadap ajakan mereka.
«  Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah, agamaku”.(QS.Al-Kafirun(109) :1-6).
Ini yang disebut Akidah. Ia tidak boleh dicampur adukkan oleh paham apapun. Penyembahan hanya kepada-Nya, murni hanya kepada Allah swt. Tidak ada kebengkokan dalam Islam. Tidak ada perantara, tidak ada kerja sama, tidak ada anak bagi-Nya. Semua orang di sisi Allah adalah sama yaitu para hamba, para abdi yang tergantung kepada-Nya. Itu sebabnya segala perbuatan dan amal sebaik apapun bila dilakukan bukan karena-Nya dan tidak dalam rangka mencari ridho Allah swt maka tidak ada gunanya diakhirat nanti. Ketaatan kepada siapapun termasuk kepada orang-tua, suami bahkan para pemimpin sekalipun harus atas dasar ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya.
«  Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya ». (QS.An-Nur(24) :39).
Karena sikap tegas dan tidak kenal kompromi inilah Rasulullah kemudian dimusuhi dan diperangi orang-orang Quraisy. Para pembesar Quraisy makin geram dan kesal. Mereka merasa bakal sangat terancam kedudukan dan kekuasaan mereka bila ajaran baru ini sampai benar-benar diterima penduduk Mekah. Mereka khawatir Islam akan menghapus semua kebiasaan-kebiasaan ritual mereka, merebut kekuasaan dan merusak gengsi mereka sebagai penjaga Ka’bah yang selama ini mereka bangga-banggakan.
Maka dengan sekuat tenaga Abu Jahalpun memimpin permusuhannya terhadap Islam,. Berbagai fitnah dan hasutan terus dilancarkannya. Para tokoh Quraisy tersebut memanasi-manasi bahwa kalaupun Allah menurunkan seorang Rasul, mustinya merekalah yang paling pantas ditunjuk bukan Muhammad yang mereka anggap miskin dan tidak memiliki kekuasaan. Yang saking miskinnya ketika bayi tak seorang perempuanpun sudi menyusuinya kecuali terpaksa.  Yang bahkan hingga menikah bertahun-tahunpun tidak juga mempunyai anak lelaki. (Kedua anak lelaki Rasulullah meninggal dunia ketika masih kanak-kanak. Sementara memiliki anak perempuan dianggap aib).  Mereka juga mempertanyakan mengapa Allah hanya menurunkan manusia biasa yang makan seperti orang kebanyakan bahkan berjalan-jalan dipasar sebagai utusan Allah, bukannya mengirim seorang malaikat saja. Dengan keji mereka mengolok-olok Rasulullah adalah seorang tukang tenung.
“Dan mereka berkata: “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil) nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.””,(QS.Al-Furqon(25):7-8).
“ Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?…” .(QS.Al-Baqarah(2):118).
Ibnu Abbas memaparkan bahwa ayat di atas turun tak lama setekah Rafi’ bin Huraimalah berkata kepada nabi saw “ Jika benar engkau adalah seorang  utusan Allah sampaikan kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami mendengar kata-kata-Nya”. ( HR. Ibnu jarir dan Ibnu Abi Hatim).
“ Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus”.(QS.Al-Baqarah(2):108).
Ibnu Abbas berkata bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid berkata kepada nabi saw, “Wahai Muhammad, datangkanlah dari langit kitab yang kau turunkan kepada kami dan dapat kami baca. Atau pancarkanlah sungai untuk kami agar kami beriman kepadamu.” Maka Allah menurunkan ayat diatas. ( HR Ibnu Abi Hatim).
“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”.(QS.Al-Qamar(54):1-2).
Anas, Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas menerangkan bahwa suatu ketika penduduk Mekah menantang Rasulullah agar memperlihatkan sebuah mukjizat kepada mereka. Maka beliaupun memperlihatkan bulan yang terbelah menjadi dua bagian hingga mereka melihat warna merah di antara keduanya.( HR Tirmidzi dan HR Shahih Muslim).
Begitulah para tokoh Mekah mengajukan berbagai pertanyaan. Mereka tidak peduli apakah pertanyaan dan permintaan mereka itu terpenuhi atau tidak. Yang dinginkan hanyalah agar Rasulullah mau berhenti berdakwah karena mereka khawatir kekuasaan mereka terhadap masyarakat Mekah terganggu.
Mereka memang bukan bermaksud mencari kebenaran melainkan hanya ingin memojokkan, menghina dan mengejek Rasulullah. Meski sebenarnya hal tersebut bukan dilakukan semata-mata karena kebencian terhadap pribadi Rasulullah. Karena seluruh penduduk Mekah memang sebenarnya mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang yang jujur. Prilaku beliau santun hingga banyak orang menyukai beliau.
Namun sebagai manusia biasa tentu saja Rasulullah sedih mendengar ejekan dan cemoohan orang-orang Quraisy yang sebenarnya masih keluarga dan tetangga beliau sendiri itu.
“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”.(QS.Al-An’am(6):33).
Ali bin Abu Thalib memaparkan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Abu Lahab yang suatu ketika berkata, “ Sesungguhnya kami tidak mendustakanmu tetapi kami hanya mendustakan apa yang kau dakwahkan ( agama Islam)”. (HR Tirmidzi dan Hakim).
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu`jizat pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mu`jizat-mu`jizat itu hanya berada di sisi Allah”. Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mu`jizat datang mereka tidak akan beriman”.(QS.Al-An’am(6):109).
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(QS.Al-Anam(6):111).
Berikut Asbabun Nuzul ayat 109-111 surat Al-An’am diatas :
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi menjelaskan bahwa suatu hari orang-orang  Quraisy menghadap Rasulullah dan berkata,” Hai Muhammad, kau menceritakan kepada kami bahwa Musa mempunyai tongkat yang dapat digunakan untuk membelah batu. Kau juga menceritakan bahwa Isa bisa menghidupkan orang mati dan bahwa kaum Tsamud mempunyai seekor unta ( lalu mereka sembelih). Sekarang, coba tunjukkan kepada kami sedikit dari mukjizat ( kenabianmu) sehingga kami akan beriman kepadamu“. Rasul bertanya:”Apa yang kalian inginkan?”.” Jadikan bukit Shafa emas untuk kami.” Beliau bertanya lagi, “ Jika aku melakukannya apakah kalian akan membenarkanku?”. Mereka berkata , “ Ya, demi Allah”. Lalu Rasulullah berdiri  dan berdoa. Jibril datang dan berkata kepadanya, “ Jika engkau menginginkannya bukit ini akan berubah menjadi emas. Namun jika kau mau tinggalkanlah mereka sehingga beberapa orang di antara mereka mau bertobat kepada Allah”: Maka turunlah ketiga ayat ini.)HR. Ibnu Jarir)..
Akhirnya Rasulullahpun membatalkan doanya.
Para pembesar Mekah juga menyiksa siapa saja yang berani meninggalkan agama nenek moyang mereka.  Ammar dan kedua orang tuanya, Yassir dan Sumayya yang disiksa hingga meninggal adalah hanya sedikit contoh diantaranya. Sementara Bilal, budak hitam yang kemudian dikenal sebagai muazzin pertama dan merupakan satu dari 10 sahabat yang dijanjikan masuk surga oleh Rasulullah dibeli oleh Abu bakar Sidik hingga bebas dari penyiksaan hebat yang dideritanya.
Akan tetapi Rasulullah tetap bertahan. Ini adalah perintah Allah swt, Sang Pencipta yang harus ditaati. Beliau tidak akan mundur, apapun yang dilakukan para pembesar Quraisy atau siapapun yang ingin menghalanginya. Bahkan Abu Thalib, paman Rasulullah yang selalu melindungi beliau sampai kewalahan. Ia begitu khawatir terhadap keselamatan ponakan yang telah dianggap seperti anak sendiri itu.
“ Demi Allah paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tanganku dan bulan di tangan kiriku agar aku melepaskan ajakanku .. tak akan aku melepaskannya”, demikian jawaban tegas Muhammad saw ketika pamannya itu atas desakan para pemuka Mekah meminta Rasulullah agar berhenti berdakwah.Maka sejak itu Abu Thalibpun tidak pernah lagi menyuruh Rasulullah untuk berhenti berdakwah.  Ia malah bertambah makin serius melindungi Rasulullah dari segala ancaman dan serangan musuh.
( Bersambung).

Sirah Nabawiyah Bagian VII. Dakwah secara terang-terangan ( Jahriyatud Dakwah)


Tiga tahun lamanya Rasulullah berdakwah secara diam-diam. Rumah Abu Abdillah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi madrasah pertama tempat berkumpulnya  Muslimin generasi awal. Dibawah ajaran dan pengawasan langsung Rasulullah saw, meski jumlah mereka ketika itu hanya 40 orang mereka adalah orang-orang yang benar-benar  taat dan sangat pandai menjaga kerahasiaan pertemuan mereka.
Setiap menjelang shalat mereka datang secara sembunyi-sembunyi menuju madrasah  yang tersembunyi di atas bukit Shafa ini. Ketika itu belum turun perintah shalat 5 kali sehari. Mereka hanya melaksanakan shalat 2 kali sehari, yaitu di awal pagi hari ( Subuh ) dan di awal menjelang  malam ( Magrib).
Hingga suatu hari turun  ke tiga ayat berikut :
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.  (QS.Al-Hijir [15]: 94).
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman “.(QS.Asy-Syuara’(26): 214-215).
“Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.(QS.Al-Hijir [15]: 89).
Maka begitu menerima ketiga perintah di atas, Rasulullahpun segera menuju bukit Shafa. Dari atas bukit ini beliau berseru memanggil :   “ Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adya, wahai Bani Kaab, wahai Fathimah binti Muhammad, wahai Bani Abdul Muththalib, wahai semua orang Quraisy .. ”
Seruan ini ditujukan kepada semua suku Quraisy  hingga mereka berkumpul semua. Bahkan ketika ada yang berhalangan hadir maka orang tersebutpun mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.
Rasulullah kemudian melanjutkan seruannya : “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?“
“ Tentu kami percaya “, jawab mereka. “ Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran”.
Rasulullah kembali bersabda : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku pemberi peringatan kepada kalian dari azab yang pedih. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak dapat membela kalian di hadapan Allahselain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya ”.
Mendengar ini, Abu Lahab serta merta menyahut kesal : “ Celakalah engkau selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”.
Tak lama kemudian turunlah  dua ayat  berikut :
“ Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa “. ( QS. Al-Lahab (111): 1).
“ Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”. (QS.As-Saba’(34):46).
Itulah yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Abbas ra dan Muslim dari Abu Hurairah ra dengan redaksi yang kurang lebih sama.
Disamping itu ada juga riwayat yang mengatakan bahwa setelah turun ayat :”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu” Rasulullah segera mengumpulkan keluarga besarnya di rumah Abu Thalib, paman yang selalu menyayangi dan melindungi beliau. Namun belum sempat Rasulullah berkata panjang lagi-lagi Abu Lahab memotongnya. Ini terjadi hingga dua kali.
Rasulullah menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembannya amatlah berat dan penuh tantangan. Untuk menghibur Rasulullah Allah swt mengingatkan bahwa semua Rasul dan nabipun menghadapi hal yang sama.
“ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya”. (QS.Al-Hijr (15):10-11).
Akan tetapi yang paling menyakitkan tantangan dan permusuhan kuat justru datang dari pihak keluarga beliau sendiri yang notabene merupakan para pemuka Quraisy yang disegani masyarakat. Terutama Abu Lahab yang juga merupakan besannya. Dengan penuh kesombongan ia bahkan memerintahkan kedua anaknya untuk segera menceraikan istri-istri mereka,yaitu Zainab dan Ruqqayah binti Muhammad. Dapat dibayangkan betapa sakit hati, malu dan sedihnya Khadijah dan kedua putri Rasulullah ini. Namun demikian mereka tetap tegar dan terus mendukung perjuangan suami dan ayah mereka tercinta, apapun akibatnya, terutama Khadijah ra.
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa suatu ketika Rasulullah berkata dihadapan Abu Thalib dan pamannya yang lain  : “ Aku ingin mereka mengucapkan satu kalimat yaitu La ilaha illallah ( tiada tuhan selain Allah )”. Seketika merekapun mengejek, “ Satu Tuhan? Ini sesuatu yang sangat mengherankan”. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim).
Kemudian turun ayat berikut :
“ Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (maksudnya agama Nasrani yaitu meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. Mengapa Al Qur’an itu diturunkan kepadanya di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur’an-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku”.( QS. Shad(38): 4-8).
Maka sejak itulah orang-orang Islam yang jumlahnya belum begitu banyak itu mengalami siksaan dan tekanan. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari bahan ejekan. Kemana beliau  melangkah Abu Lahab selalu mengikutinya sambil mengatakan bahwa ponakannya itu orang gila.
Suatu hari Rasulullah sedang melaksanakan shalat di depan Kabah. Sementara Abu Jahal dan teman-temannya terlihat berada di ujung lain tempat tersebut. Mereka memperhatikan gerak gerik Rasulullah sambil mentertawakan dan mengolok-ngolok beliau. Tak lama kemudian Abu Jahal  berkata menantang  : ‘Siapa di antara kalian yang bisa mendapatkan usus binatang sembelihan untuk kita campakkan kepada Muhammad?’
Uqbah bin Abi Muayt, orang yang paling keji di antara mereka, menawarkan diri dan bergegas pergi untuk melakukan perkara keji  tersebut. Uqbah kembali dengan usus binatang sembelihan lalu melemparkannya ke atas bahu Rasulullah saw ketika beliau sedang sujud.
Fatimah, putri bungsu Rasulullah yang melihat  kejadian tersebut langsung berlari  dan membuang kotoran tersebut sambil menangis. Kemudian Rasulullah kembali berdiri dan menyempurnakan shalatnya. Sementara Fatimah yang ketika itu baru berusia 10 tahun memarahi kumpulan orang Quraisy tadi.
Usai shalat dengan suara keras Rasulullah berdoa : “ Ya Allah, hukumlah orang-orang Quraisy itu!”,sebanyak tiga kali. “ Semoga Kau menghukum Utbah, Uqbah, Abu Jahl dan Shaybah “. Mendengar  ini orang-orang Quraisy tadi hanya diam  tak bereaksi. Terlihat adanya rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. (Beberapa tahun kemudian,  dalam perang Badar, mereka yang disebut Rasulullah di dalam doa di atas terbunuh secara mengenaskan).
Penyiksaan terhadap pemeluk Islam makin hari menjadi-jadi. Hampir setiap hari selalu ada Muslim yang disiksa dan dipaksa kembali ke ajaran nenek moyang mereka. Namun demikian ini tidak berarti bahwa dakwah tidak berkembang.
Rasulullah yang kerap shalat didepan Kabah bersama Khadijah dan Ali bin Abu Thalib yang ketika itu masih belia walaupun banyak orang yang tidak menyukainya, tidak dapat dipungkiri merupakan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang masih bersih hatinya. Sama halnya dengan penyiksaan yang terjadi. Kejadian yang sangat memprihatinkan ini justru merupakan magnit bagi perkembangan agama baru ini.
Bagi mereka yang masih bersih  hatinya, prilaku dan akhlak Muhammad yang sejak lama telah dikenal berkat kejujuran, kesabaran dan kesantunannya sungguh sangat menjanjikan. Sejak muda beliau telah pandai menjaga silaturahmi, tidak mau menyembah berhala, tidak suka mabuk-mabukan apalagi pesta-pesta dan bermain-main dengan perempuan. Beliau dikenal sebagai seorang suami yang setia dan sangat menyayangi keluarganya. Di mata mereka Muhammad adalah benar-benar patut dijadikan sebagai panutan.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (QS. Al-Ahzab(33):21).
Belum lagi dengan pengaruh bacaan Al-Quran yang begitu memikat. Kota Mekah sejak lama telah dikenal sebagai tempat berkumpulnya para penyair terkenal. Setiap bulan haji para penyair dari segenap penjuru tanah Arab berdatangan untuk mempertontonkan kehebatan mereka menggubah berbagai bentuk dan gaya syair.
Ketika Rasulullah membacakan ayat-ayat Al-Quran banyak orang yang terpengaruh dengan keindahan ayat-ayat tersebut, baik dari segi isi maupun gaya bahasanya. Oleh karenanya banyak orang yang kemudian tertarik dan akhirnya memeluk Islam. Maka dengan keji Abu Jahalpun melempar fitah bahwa Muhammad adalah seorang penyihir sekaligus penyair gila. Selanjutnya ia berusaha keras menghalangi orang dari mendengar ayat-ayat suci tersebut.
Adalah Walid bin Mughirah, seorang pembesar Mekah. Setelah mendengar ayat yang dibacakan Rasulullah, ia merasa tersentuh. Abu Jahal segera mendesak temannya itu agar tidak terpengaruh. “Ucapkan sesuatu yang membuktikan pengingkaranmu kepada Muhammad “, ujarnya.
“Apa yang harus kukatakan? Demi Allah, tak seorangpun diantara kalian yang melebihi pengetahuanku tentang syair, puisi dan sajak, bahkan dari kalangan jinpun. Demi Allah apa yang diucapkan Muhammad tak sedikitpun menyerupai semua itu. Sungguh perkataannya indah dan menyejukkan. Kata-katanya sangat tinggi dan tak mungkin tertandingi”, aku Walid kagum.
“ Hai Walid, kaummu takkan rela hingga kau mengatakan sesuatu yang mencela Muhammad”, desak Abu Jahal lagi.
” Beri aku waktu untuk berpikir”, jawab Walid pada akhirnya.
Setelah berpikir sejenak, Walidpun berkata dalam hati, ” Mungkin memang benar, ucapan Muhammad itu adalah sihir yang berkesan”.
Kisah diatas diriwayatkan oleh Hakim dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah kejadian diatas turunlah ayat berikut :
“Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya” . (QS.Al-Mudatstsir(74):11).
Namun demikian Rasulullah berusaha tetap menjaga kesabarannya. Apalagi ketika Allah swt menurunkan ayat berikut :
” Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka”.(QS.Al-Insan(76):24).
Qatadah menuturkan bahwa ayat diatas berkenaan dengan Abu Jahal yang suatu ketika berkata,  ” Jika  aku melihat Muhammad mendirikan shalat pasti aku akan menginjak batang lehernya “. ( HR Abdurrazaq, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir)
Para penguasa kota Mekah terlihat makin kesal dengan perkembangan Islam.  Apalagi dengan masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab. Keduanya adalah tokoh Quraisy yang selama ini dikenal gagah berani dan berpendirian kokoh. (Umar bin Khattab adalah satu diantara banyak orang yang tertarik dengan ajaran Islam berkat bacaan Al-Quran).
“ Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.( QS. Fathir(35):8).
Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Rasulullah yang suatu ketika berdoa, “ Ya Allah, kukuhkan agama-Mu dengan Umar bin al-khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Lalu Allah memberi hidayah kepada Umar bin al Khattab  dan menyesatkan Abu Jahal. ( HR Juwaibir).
( Bersambung)